Edarkan Sabu, Residivis dan Istri Diciduk Polisi

Pasangan suami-istri yang baru menikah sekitar sembilan bulan bakal mendekam dibalik jeruji besi. Pasalnya, keduanya diciduk anggota Satreskoba Polres Tulungagung pada Minggu (15/11/2020) siang lantaran memiliki narkoba golongan satu jenis sabu-sabu dengan total mencapai 19,2 gram.

Pasutri tersebut yakni MY alias Molow (24) dan AY (20). MY merupakan residivis yang baru bebas pada akhir tahun 2019 yang lalu karena menjadi pengedar dobel L.

Tak hanya itu, polisi juga mengamankan AK (24) yang merupakan satu jaringan dari MY serta AY ini. Ketiga tersangka yang sudah mendekam di kantor polisi ini merupakan warga Kelurahan Kepatihan Kecamatan Tulungagung Kota.

Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia melalui Paur Humas Iptu Nenny Sasongko mengatakan, terungkapnya pasutri dan temannya ini berkat informasi yang diterima petugas. Bahwasannya, beberapa bulan terakhir di wilayah Kelurahan Kepatihan diduga ada peredaran narkoba.

“Berbekal informasi tersebut petugas langsung melakukan penyelidikan,” katanya.

Dari bahan keterangan yang diperoleh lanjut Nenny, petugas sudah mengantongi ciri-ciri dan identitas target. Namun karena belum cukup bukti, petugas memilih menunggu momen yang tepat.

“Nah pada Minggu (15/11/2020) siang, petugas mencurigai MY dan AK yang saat itu berada di pinggir jalan masuk Kelurahan Kenayan,” imbuhnya.

Nenny mengungkapkan, tak mau kehilangan momentum, petugas yang berpakaian preman langsung melakukan penggerebakan. Awalnya keduanya mengelak, namun saat ditemukan lima poket sabu, mereka hanya pasrah.

“Setelah diinterograsi, petugas meminta untuk menunjukkan rumahnya. Saat digeledah ternyata petugas kembali menemukan sabu di almari dengan berat total 19,2 gram termasuk AY istri MY,” jelasnya.

Masih menurut Nenny, untuk keperluan penyidikan ketiganya langsung digelandang ke Mapolres berikut barang bukti.

Kepada petugas, MY mengaku menjadi pengedar sabu sejak lima bulan yang lalu. Ia berdalih belum memiliki pekerjaan tetap. Barang haram tersebut diperoleh dari seseorang yang berinisial B asal Madiun. Setiap 1 gram sabu, dibeli seharga Rp 1,1 juta.

“Kemudian barang tersebut dipecah sesuai kebutuhan. Ada yang dijual per paket Rp 200 ribu, Rp 400 ribu, dan Rp 600 ribu,” bebernya.

Adapun cara transaksinya, jika pembeli sudah dikenal, MY langsung COD. Namun jika tidak dikenal, MY menggunakan sistem ranjau.

Selain menjual, ketiga tersangka ini juga mengkonsumsi sabu. Hal ini dikuatkan dengan hasil tes urin yang psotif.

Nenny menambahkan, kini kasus tersebut masih dalam proses penyidikan. Petugas juga berupaya untuk menelusuri siapa pemasok sabu ketiganya.

“Atas perbuatannya, mereka bakal dijerat dengan pasal 114 ayat (2) subs 112 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) UURI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” pungkasnya.

 

Close
Menu